Tanah Bergerak Merusak 202 Rumah Diwilayah Koto Tinggi, 80 KK Diminta Mengungsi
Limapuluh Kota, MA - Kabar memprihatinkan datang dari negeri pusat perjuangan PDRI, Nagari Koto Tinggi, Kabupaten 50 Kota. Tepatnya, Jorong Aia Angek. Sebanyak 220 unit rumah yang berada di Bukit Kapanehan mengalami tanah bergerak. Akibatnya tanah dan rumah-rumah di perbukitan kecil yang padat penduduk itu diambil kembali dan rusak. Semua warga terpaksa mengungsi karena sangat tidak aman.
Warga mengungsi dan membangun posko. Jumlah mereka sekitar 80 KK atau lebih kurang 250 jiwa. Sedangkan sebagian menumpang di rumah saudara mereka yang dianggap aman. Sebagian lainnya mengungsi di Masjid Takzir Aia Angek yang sebetulnya tidaklah begitu aman, karena masih berada di kaki Bukit Kapanehan.
Tokoh masyarakat Jorong Aia Angek, Widra Efendi (52) yang kini bermukim di Kota Payakumbuh mengungkapkan tanah bergerak dan bangunan rumah-rumah penduduk mengalami pengambilan ulang yang terjadi ketika memasuki cuaca ekstrim sejak 21 November 2025 atau disebut dengan istilah Hidrometereologi. Hujan deras dan angin kencang terjadi dalam waktu berhari-hari.
Padahal menurut sejarah yang kami terima, sudah tujuh keturunan masyarakat yang menempati Bukit Kepanehan, kondisinya aman-aman saja. Baru kini saja tanah bergerak dan mengakibatkan bangunan diambil kembali. Mungkin dampak dari musim kemarau yang lebih dari empat bulan, lalu tiba-tiba datang hujan yang berhari-hari lamanya,” kata Widra.
Jorong Aia Angek berjarak sekitar 55 KM dari Kota Payakumbuh atau pun dari Kantor Bupati Lima Puluh Kota, Sarilamak. Letaknya di sebelah utara. Dari Ibukota Kecamatan Gunuang Omeh, Koto Tinggi jarak ke Jorong Aie Angek sekitar 5 KM. Sedangkan Monumen Nasional PDRI berada di jorong ini atau sekitar 2 KM dari Bukit Kapanehan. Jorong Aia Angek bertetangga dengan Nagari Baruah Gunuang, Kecamatan Bukit Barisan.
Widra Efendi yang rumah orang tuanya berada di Bukit Kepanehan mengatakan ibunya telah langsung diungsikan ke rumahnya di Kota Payakumbuh pada Kamis (27/11/2025). Sedangkan keluarga kakaknya yang menempati rumah tersebut juga telah mengungsi ke rumah keluarga yang relatif dianggap aman di Jorong Aia Angek.
Meski berada di puncak bukit dan melalui jalan sempit menanjak antara rumah-rumah warga yang sangat rapat, namun rumah orang tua Widra Efendi beberapa tahun lalu pernah dikunjungi Gubernur Irwan Prayitno. Gubernur Mahyeldi Ansharullah juga sudah pernah singgah ke rumah tersebut.
Pemukiman warga Jorong Aia Angek di Bukit Kapanehan termasuk yang fenomenal. Meski tanahnya berada di lereng yang cukup curam, namun warga senang membangun rumah di lokasi itu. Sisi dan sudut bangunan rumah warga nyaris saling bersinggungan. Hanya ada jalan kecil dari kaki hingga puncak bukit.
Jalan yang berbelok-belok dan menanjak di antara dinding-dinding rumah warga di Bukit Kepanehan Aia Angek, hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor atau dengan berjalan kaki. Jika hari hujan permukaan jalan sangat licin dan tentu harus berhati-hati mendakinya.
Sejak tanah berpindah, dan ada rengkahan tanah menganga hingga bangunan rumah retak-retak warga sangat cemas. Mereka khawatir terjadi longsor hebat yang tentu akan menimbulkan banyak korban. Karena itu warga dengan kesadaran penuh pergi mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Mereka mendirikan posko pengungsi. “Kondisi masyarakat benar-benar sangat khawatir. Mereka cemas dan takut,” kata Widra Efendi (30/11/2025).
Masyarakat bersama aparat telah melakukan pendataan. Jumlah rumah rusak sebanyak 202 unit. Selain rusak, sangat berbahaya jika rumah tersebut ditempati kembali. Apalagi sewaktu-waktu tanah bisa kembali bergerak ketika diguyur hujan deras lagi.
Kondisi warga Jorong Aia Angek menjadi perhatian Pemkab Lima Puluh Kota beserta jajaran Forkopimda. Pada Jumat (28/11/2025) Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha bersama unsur Forkopimda, di antaranya Ketua DPRD, Dandim 0306, Kapolres, Kadis PU, Kadis Perikanan, Kasatpol-PP, Kalaksa BPBD, Kadis Pertanian, Baznas, Camat Gunuang Omeh, Wali Nagari dan unsur terkait lainnya yang mendatangi lokasi tersebut.
Saat ini terdapat 80 KK atau ratusan orang yang terpaksa tinggal di lokasi pengungsian dan sebagian menumpang di rumah saudara mereka yang dianggap aman. Sebagian lainnya mengungsi di Masjid Takzir Aia Angek yang sebetulnya, tidaklah begitu aman, karena masih berada di kaki Kukit Kapanehan.
Rombongan Wabup Rito dan Forkopimda mengunjungi dapur umur di Posko yang teretak di Kantor Camat Koto Tinggi dan juga ikut menyiapkan makanan yang akan dibawa ke posko Jorong Aia Angek untuk warga yang mengungsi.
Wabup menyerahkan bantuan Baznas Lima Puluh Kota sembako kepada para pengungsi, berupa beras, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat selama berada di posko pengungsian Warga berterima kasih kepada pemda.
Pengungsi menyampaikan beberapa kebutuhan yang mendesak seperti keringanan token listrik, pakaian ibu hamil, kebutuhan anak-anak dan balita, serta air bersih. Banyaknya jaringan Pamsimas yang putus, membuat pasokan udara ke pengungsian terhenti. Saat ini sekitar 80 KK masih bertahan di posko. (Arief Wisa)
