Mahakarya di Ujung Jari: Jejak Estetika Yang Tak Lekang Oleh Waktu
Kabupaten Semarang |MA– Asap tipis membumbung perlahan di antara canda tawa para prajurit dan warga, membawa kembali memori kolektif tentang sebuah tradisi tua bernama Ting We —singkatan dari Ngelinting Dhewe (melinting sendiri).
Tradisi meracik tembakau secara mandiri ini lahir dari rahim sejarah panjang masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa, sebagai wujud kemandirian dan keintiman kultural. Jauh sebelum pabrik-pabrik raksasa memodernisasi industri sigaret, ting we adalah simbol kedaulatan rasa, di mana setiap orang menjadi seniman bagi hisapannya sendiri dengan memadukan tembakau kering, rajangan cengkeh, dan secarik kertas kemenyan yang khas.
Dari generasi ke generasi, ritual sederhana ini bertransformasi dari sekadar cara menghemat pengeluaran menjadi sebuah warisan budaya luhur yang merekatkan hubungan sosial tanpa sekat strata.Keindahan tradisi masa lalu tersebut kini mewujud nyata di tengah geliat pembangunan desa dalam program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga.
Momentum penuh kehangatan ini tertangkap kamera saat Hydration Time (waktu istirahat), di mana sekat antara TNI dan rakyat melebur dalam balutan aroma tembakau Nusantara. Tampak seorang anggota Satgas dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Yon Arhanudse) 15/DBY Kota Semarang, Pratu Febrianur (26), sedang berkonsentrasi penuh mencoba membuat lintingan pertamanya dari tembakau dan cengkeh rajangan yang dipandu langsung oleh sang pemilik tembakau, Bapak Sunardi (53).
Momen kebersamaan penuh nilai budaya ini terjadi di Dusun Gompyong RT 16 RW 06, Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang pada hari Sabtu, 18 Juli 2026 pukul 08.30 WIB.
Bagi Pratu Febrianur, memelintir lembaran papir bukan sekadar urusan meramu tembakau, melainkan sebuah seni mentransfer kedekatan emosional. Bapak Sunardi dengan senyum khas pedesaan memberikan gestur teladan, menunjukkan bagaimana takaran cengkeh yang pas akan menghasilkan bunyi "kletek-kletek" yang nikmat saat dibakar.
Di sela-sela debu pengerjaan fisik TMMD, aktivitas ting we ini menjadi jembatan kultural yang membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat tidak hanya dibangun lewat semen dan batu, melainkan lewat rasa saling menghargai terhadap warisan leluhur yang masih terjaga erat di Desa Cukil. Lebih dari sekadar pengisi waktu rehat, tembakau ting we ini nyata hadir sebagai medium pemersatu dan sumber inspirasi dalam proyek pembangunan jalan tersebut. Di balik setiap lintingan yang terwujud, mengalir obrolan hangat, tukar pikiran, dan suntikan semangat baru yang membakar tekad para prajurit serta warga untuk menyelesaikan target fisik.
Aroma khas tembakau rakyat ini seolah menyatukan visi, menyalurkan energi positif dari jari-jemari yang lelah ke dalam kekuatan gotong-royong yang tak kenal lelah.Istirahat sejenak penuh inspirasi ini terbukti ampuh melepas penat setelah mereka bahu-membahu mengecor jalan penghubung antar-dusun yang menjadi sasaran fisik utama TMMD kali ini.
(Sus)
