HEADLINE
Dark Mode
Large text article














LGI Sumsel Desak Pemkot Palembang Segera Berlakukan Sekolah Daring: "Jangan Tunggu Siswa Bertumbangan"


PALEMBANG, MA — Lonjakan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Palembang yang menyentuh angka 195 dan masuk kategori "Tidak Sehat" menuai sorotan tajam dari kelompok masyarakat sipil. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Swadaya Masyarakat Laskar Garuda Indonesia (LGI) Sumatera Selatan secara tegas mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk segera menghentikan aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah.

Ketua DPW LSM LGI Sumsel, Al Anshor, S.H., C.MSP., menyatakan bahwa instruksi Belajar Dari Rumah (BDR) atau sekolah daring harus segera diterbitkan demi menyelamatkan anak-anak dari paparan kabut asap akibat eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kondisi udara di Palembang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. ISPU melompat tajam dari 115 menjadi 195 hanya dalam hitungan hari. Kami mendesak Pemkot Palembang, khususnya Dinas Pendidikan, untuk mengambil langkah taktis. Berlakukan sekolah daring sekarang juga. Jangan tunggu anak-anak kita bertumbangan terkena ISPA baru kebijakan dikeluarkan," tegas Al Anshor saat menyampaikan keterangan resminya, Minggu (23/8/2026).

Desakan dari pimpinan lembaga pengawasan sipil independen ini didasarkan pada data faktual di lapangan. Merujuk pada catatan Dinas Kesehatan Kota Palembang, jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 9.313 kasus hanya pada periode 1 hingga 21 Agustus 2026.

Al Anshor, menilai bahwa langkah pembagian 10 ribu masker yang diinisiasi oleh Wali Kota Ratu Dewa patut diapresiasi. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut hanyalah solusi jangka pendek yang tidak cukup kuat untuk memproteksi kelompok rentan seperti pelajar.

"Pembagian masker itu niat yang baik, tetapi membiarkan anak-anak TK, SD, hingga SMP menembus pekatnya kabut asap setiap pagi untuk berangkat ke sekolah adalah sebuah risiko besar. Kesehatan dan keselamatan generasi penerus adalah harga mati. Tidak bisa ditawar hanya dengan imbauan pemakaian masker dan perbanyak minum air putih," imbuhnya.

Lebih lanjut, LSM LGI Sumsel berkomitmen untuk terus memonitor kebijakan birokrasi Pemkot Palembang terkait penanganan krisis udara ini. Berkaca pada preseden darurat kabut asap di tahun-tahun sebelumnya, pengalihan metode ke dalam jaringan (daring) terbukti menjadi langkah mitigasi paling rasional dan efektif untuk melindungi pelajar.

“Kita meminta Pemkot Palembang tidak menunda-nunda kajian. Situasi darurat menuntut keputusan yang cepat dan terukur. Apabila tidak segera ada surat edaran resmi terkait penyesuaian kegiatan belajar dari Dinas Pendidikan, LGI Sumsel siap melayangkan surat desakan secara formal kepada Wali Kota dan instansi terkait,” tutupnya. (Red)