Tak Punya Ongkos Pulang" Pria Jalan Kaki dari Stabat hingga Aceh Tamiang, Wartawan dan Satlantas Polres Aceh Tamiang Turun Tangan
September 02, 2026
Aceh Tamiang—mediadvokasi.id:
Di tengah padatnya aktivitas dan hiruk-pikuk lalu lintas di Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah kisah haru dan penuh kemanusiaan terjadi baru-baru ini. Seorang pria berinisial M. Yusuf (42), warga asal Stabat, Sumatera Utara, terpaksa menempuh perjalanan berjalan kaki ratusan kilometer demi mencapai tujuannya di Lhoksukon, Aceh Utara, lantaran tidak memiliki biaya untuk membayar ongkos angkutan umum.
Perjalanan jauh itu ia tempuh dengan satu harapan sederhana: menemui saudaranya di Lhoksukon sekaligus mencari pekerjaan agar dapat melanjutkan kehidupan. Langkah kakinya yang melelahkan akhirnya membawanya sampai di Kota Kualasimpang, tepat di depan gerbang masuk Kantor DPRK Aceh Tamiang.
Di sanalah nasib M. Yusuf berubah. Ia ditemui oleh seorang wartawan yang sedang melintas menggunakan sepeda motor. Melihat kondisi pria itu yang tampak kelelahan dan membutuhkan pertolongan, wartawan tersebut kemudian menyapa dan mengajaknya berbicara. Dari perbincangan itulah terungkap bahwa M. Yusuf telah berjalan kaki sejak meninggalkan Stabat hingga tiba di Aceh Tamiang, tanpa sepeser pun uang di saku.
“Kepada saya, beliau mengaku tidak memiliki uang sepersen pun untuk menaiki kendaraan umum. Bahkan sempat berniat menumpang sejauh yang bisa didapat, lalu kembali berjalan kaki menuju Lhoksukon,” ujar wartawan yang menemukannya.
Melihat kondisi yang serba terbatas tersebut, wartawan itu tidak tinggal diam. Ia berinisiatif berkoordinasi dengan jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Tamiang untuk meminta bantuan. Pihak Satlantas pun menyambut baik laporan tersebut dan segera merespons. M. Yusuf kemudian didampingi menuju Kantor Satlantas Polres Aceh Tamiang, di mana petugas memberikan bantuan berupa pembelian tiket angkutan umum agar ia dapat melanjutkan perjalanan menuju Lhoksukon dengan layak.
Langkah cepat ini menjadi bukti nyata kepedulian sosial institusi kepolisian terhadap masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan.
Kasat Lantas Polres Aceh Tamiang, AKP Hendra Sukmana, S.H., menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud tanggung jawab dan kepedulian kepolisian terhadap masyarakat.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap masyarakat. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan dan tentunya masih bisa kita bantu, maka kita akan berupaya membantu semampu kita,” tegas AKP Hendra.
Kisah M. Yusuf memang terlihat sederhana: seorang pria yang tidak memiliki ongkos perjalanan lalu dibantu mendapatkan tiket. Namun di balik itu tersimpan makna perjuangan dan harapan yang begitu besar. Dari Stabat hingga Kualasimpang, ia melangkah puluhan kilometer bukan untuk bersenang-senang, melainkan demi bertemu keluarga dan mencari pekerjaan agar hidupnya bisa lebih baik.
Di sinilah nilai kemanusiaan menjadi begitu berarti. Bagi sebagian orang, harga sebuah tiket mungkin tidaklah besar. Namun bagi seseorang yang benar-benar tidak memiliki apa-apa, tiket itu adalah jembatan yang menyelamatkan harapan.
Apa yang dilakukan wartawan yang menemukan M. Yusuf juga patut diapresiasi. Ia tidak hanya merasa iba lalu berlalu, tetapi bergerak mencari jalan agar orang tersebut mendapat pertolongan yang tepat. Sementara itu, respons cepat jajaran Satlantas Polres Aceh Tamiang memperlihatkan bahwa wajah kepolisian tidak hanya hadir dalam penegakan aturan dan pengamanan lalu lintas. Ada sisi lain yang tak kalah penting: kepedulian, empati, dan kemanusiaan.
Seragam yang dikenakan bukan sekadar simbol kewenangan, melainkan bukti bahwa negara hadir di tengah masyarakat ketika ada yang membutuhkan pertolongan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua orang hari ini berjalan dalam kemudahan. Ada yang sedang berjuang mencari pekerjaan, ada yang melangkah jauh karena keterbatasan, dan ada yang hanya membutuhkan sedikit uluran tangan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Karena itu, kepedulian sekecil apa pun tetap memiliki nilai yang luar biasa.
Bagi M. Yusuf, tiket itu hanya membawanya dari satu tempat ke tempat lain. Namun secara kemanusiaan, bantuan itu telah memberikan sesuatu yang jauh lebih besar: kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dan mengejar harapan.
Tidak semua orang mampu memberikan bantuan yang besar. Namun setiap orang sebenarnya mampu untuk peduli. Terkadang, sapaan sederhana “Bapak mau ke mana?”, sebuah tumpangan, atau bantuan kecil dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi mereka yang sedang berada di titik terberat kehidupan.
Sebab kemanusiaan tidak pernah diukur dari seberapa besar nilai bantuan yang diberikan, melainkan dari seberapa tulus hati kita menolong ketika melihat orang lain sedang jatuh dan membutuhkan sandaran.
Semoga langkah kecil yang dilakukan wartawan dan jajaran Satlantas Polres Aceh Tamiang ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Sebab ketika satu tangan terulur kepada mereka yang membutuhkan, sesungguhnya kita sedang menunjukkan bahwa kebaikan masih memiliki tempat yang kokoh di tengah kehidupan bersama.(Eri Beo).