HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Langkah Agresif Pemkot Palembang Atasi 11 Titik Banjir, Kejar Target Normalisasi

 


PALEMBANG, MA  — Di tengah tantangan anomali cuaca dan tingginya intensitas curah hujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mengambil langkah tegas dan cepat untuk mengurai persoalan banjir menahun. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pemerintah setempat kini tengah "tancap gas" mengeksekusi normalisasi di 11 titik rawan genangan yang ditetapkan sebagai prioritas utama.

Langkah taktis ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Wali Kota Palembang untuk menghadirkan solusi yang sigap, terukur, dan berdampak langsung bagi mobilitas masyarakat.

Respons Cepat di Lapangan

Kepala Dinas PUPR Kota Palembang, Ir. Yudha F, ST MT IPM ASEAN Eng, mengungkapkan bahwa penyebab utama banjir di kota pempek ini sangat kompleks. Selain dipicu oleh pasang surut Sungai Musi dan curah hujan ekstrem, masalah klasik seperti penyempitan saluran air akibat sedimentasi dan penumpukan sampah masih menjadi penyumbang terbesar.

"Permasalahan ini kompleks. Selain sedimentasi dan sampah, juga dipengaruhi pasang Sungai Musi serta curah hujan yang cukup tinggi," tegas Yudha kepada awak media.

Tidak sekadar menyusun wacana, tim PUPR telah dikerahkan ke lapangan secara penuh. Dari 11 titik yang menjadi fokus utama, lima lokasi telah berhasil dinormalisasi. Petugas bahkan disiagakan dengan sistem sif malam untuk memantau pergerakan debit air dan merespons genangan seketika.

Salah satu penanganan krusial yang baru saja diselesaikan adalah perbaikan dinding penahan air di Kolam Retensi Simpang Polda. Infrastruktur tersebut sempat jebol akibat volume air yang melonjak pada banjir Selasa (21/4/2026) lalu, yang berimbas pada kelumpuhan arus lalu lintas di kawasan Jalan Demang Lebar Daun.

Sinergi Lintas Sektoral

Pemkot Palembang menyadari bahwa mitigasi bencana tidak bisa dilakukan secara sektoral. Sinergi lintas instansi pun dibangun dengan menggandeng Balai Jalan Nasional untuk menormalisasi saluran crossdrain yang berada di bawah jalan nasional, seperti di kawasan cekungan DA Km 7. Banyaknya utilitas bawah tanah di kawasan tersebut selama ini menjadi biang kerok tersumbatnya aliran air.

Selain itu, dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Dinas PU Pengairan Provinsi Sumsel telah menyiagakan armada mobil pompa di titik vital seperti Simpang Polda. Di saat yang sama, aparat kepolisian, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, hingga jajaran kecamatan dan kelurahan turun tangan mengatur lalu lintas dan mengevakuasi warga saat genangan mulai naik.

Cetak Biru Penanganan Jangka Panjang 2026–2027

Sebagai solusi permanen, Pemkot Palembang telah menyiapkan strategi jangka panjang yang disinergikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII. Program "Pengendalian Banjir Sistem Sungai Bendung" ini akan menjadi proyek raksasa mitigasi banjir Palembang.

Fokus Pengerjaan Proyek Jangka Panjang:

  • Normalisasi dan perkuatan tebing Sungai Bendung sepanjang kurang lebih 5 kilometer.
  • Pembenahan anak Sungai Bendung, Parit, Seduduk, dan IBA.
  • Optimalisasi kapasitas 4 Kolam Retensi: Talang Aman, Polda, Seduduk Putih, dan IBA.
  • Pengadaan dan instalasi stasiun pompa permanen di sejumlah anak sungai dan kolam retensi.

Proyek strategis ini dijadwalkan mulai berjalan pada awal Juni 2026 dan diproyeksikan rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2027.

Data 11 Titik Prioritas Penanganan

Untuk mengedukasi masyarakat terkait kewaspadaan jalur, berikut adalah pemetaan 11 titik prioritas yang tengah dikebut penanganannya oleh Pemkot Palembang:

  1.  Simpang Polda & UIGM: Terkendala penyempitan crossdrain bawah flyover.
  2. Jl. Basuki Rahmat (Depan Bank Sinarmas): Terdampak langsung pasang Sungai Musi.
  3. Kawasan Palimo & Siti Fatimah: Tumpukan sampah dan sedimentasi saluran.
  4. Kolam IBA & Bay Salim: Terjadi bottleneck atau penyempitan aliran.
  5. RS Siti Khodijah: Sedimentasi outlet kolam retensi dan hambatan bangunan di sempadan sungai.
  6. Simpang 5 & Angkatan 45: Kapasitas drainase minim dan fungsi crossdrain mati.
  7. Kambang Iwak Besak: Tingkat sedimentasi tanah yang tinggi.
  8. Jl. Kol. H. Burlian (Damri): Tersumbatnya crossdrain oleh sampah.
  9. Jl. Kol. H. Burlian (Cekungan DA): Tumpukan sedimen dan utilitas yang menghalangi air.
  10. Jl. Asrama Haji: Penyempitan akses masuk aliran air.
  11. Jl. R. A. Rozak (Kumbang): Pendangkalan saluran akibat sedimen.

Dengan komitmen terpadu antara normalisasi instan dan pembangunan infrastruktur jangka panjang ini, Pemkot Palembang menargetkan penurunan titik genangan secara signifikan. 

Harapannya, roda perekonomian dan aktivitas warga tidak lagi harus lumpuh setiap kali musim penghujan menyapa Bumi Sriwijaya. (RED)