Pola Humanis Kapolres Ubah Unras Menjadi RDP: Langkah Cerdas Jaga Kondusivitas Pasca Bencana di Aceh Tamiang
May 09, 2026
Aceh Tamiang–mediaadvokasi.id
Sebuah langkah cerdas, damai, dan penuh edukasi berhasil terwujud di Kabupaten Aceh Tamiang. Rencana aksi unjuk rasa (Unras) yang awalnya diagendakan oleh para buruh dan pekerja dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional (HBI) atau May Day 2026, berubah haluan menjadi kegiatan konstruktif berupa Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 07 Mei 2026 lalu.
Perubahan pola penyampaian aspirasi ini merupakan buah dari inisiatif dan pendekatan humanis yang dilakukan langsung oleh Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Muliadi, S.H., M.H. Melalui komunikasi yang intens dan persuasif, Kapolres berhasil mengajak para pengurus serikat buruh serta Ketua DPRK Aceh Tamiang untuk duduk bersama dan menyepakati jalur dialog sebagai wadah penyampaian aspirasi yang lebih efektif dan berbudaya.
Inisiatif ini diambil Kapolres bukan tanpa alasan kuat. Berdasarkan penilaian situasi dan kondisi di lapangan, wilayah hukum Aceh Tamiang saat ini masih berada dalam tahapan krusial percepatan pemulihan di segala sektor pasca diterjang bencana alam hidrometeorologi yang melanda akhir tahun lalu. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama pihak kepolisian dalam merumuskan langkah pengamanan dan pendekatan kepada masyarakat.
AKBP Muliadi menjelaskan hal tersebut secara rinci saat ditemui di Mapolres Aceh Tamiang pada Jumat, 08 Mei 2026. Menurutnya, langkah ini diambil demi meminimalisir segala bentuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Gankamtibmas) yang mungkin timbul. Selain itu, hal ini juga didasari kekhawatiran akan timbulnya benih-benih isu yang tidak sehat, yang berpotensi disebarkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengganggu kinerja pemerintah daerah di tengah upaya keras pemulihan pascabencana.
"Pertimbangan saya adalah meminimalisir gangguan ketertiban masyarakat dan dikhawatirkan timbulnya benih-benih isu tidak sehat terhadap pemerintah daerah karena adanya aksi keramaian," tegas AKBP Muliadi.
Lebih dalam, Kapolres mengungkapkan bahwa saat ini wilayah hukum Aceh Tamiang sedang dalam proses pembenahan dan pemulihan total. Di tengah proses mulia tersebut, masih terlihat adanya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang berusaha menyebarkan provokasi serta informasi tidak benar. Tindakan tersebut dinilai bertujuan untuk memperkeruh suasana pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), serta memberikan kesan seolah-olah menghambat kinerja pemerintah daerah yang sedang bekerja keras memulihkan ekonomi, infrastruktur, dan sosial masyarakat dari dampak bencana.
Oleh karena itu, dengan pendekatan yang persuasif dan mengedepankan musyawarah, rencana aksi di jalanan berhasil dialihkan ke ruang sidang dewan. Di sana, para buruh dapat menyampaikan segala harapan, keluhan, dan usulan kebijakan secara langsung kepada wakil rakyat dan pemerintah daerah tanpa menimbulkan kerawanan sosial.
Kapolres Aceh Tamiang juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen serikat buruh dan para pekerja. Sikap dewasa dan penuh pengertian mereka terhadap situasi daerah menjadi kunci keberhasilan momen May Day tahun ini.
"Terima kasih atas kerjasama yang baik serta pengertian dari para rekan-rekan serikat buruh dan para pekerja telah memahami dan mengerti situasi dan kondisi daerah kita. Saya yakin dan percaya semua ada hikmahnya untuk lebih baik kedepannya," ujar AKBP Muliadi dengan penuh harap.
Di akhir pernyataannya, Kapolres mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda di Aceh Tamiang untuk tetap waspada terhadap segala potensi gangguan ketertiban. Ia mengimbau agar semua pihak bersatu padu bersama-sama memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) demi menjaga kondusivitas wilayah. Dukungan penuh dari seluruh masyarakat sangat diharapkan agar proses percepatan pemulihan pasca bencana alam di Aceh Tamiang dapat berjalan lancar, cepat, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga Bumi Muda Sedia.
Langkah ini pun dinilai banyak pihak sebagai contoh teladan edukasi bermasyarakat, di mana aspirasi tetap tersampaikan, hak berpendapat tetap terjamin, namun tetap menjaga keutuhan dan fokus pembangunan daerah.(Eri Efandi).