Duka di Muba Korban Batubara Tinggalkan 2 Anak Kuliah, GEMPITA Surati Kemenhub
May 04, 2026
MUBA, MA- Duka mendalam menyelimuti keluarga Selamet Riyanto (44), warga Desa Bero Jaya Timur, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Korban harus menghembuskan napas terakhir setelah terlibat kecelakaan lalu lintas dengan armada angkutan batubara di Jalan Lintas Timur (Jalintim), jalur yang selama ini dikenal padat dan rawan kecelakaan.
Kepergian Selamet Riyanto menjadi pukulan berat bagi keluarga. Ia meninggalkan dua orang anak yang masih menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Sosok ayah yang selama ini menjadi penopang harapan dan biaya hidup keluarga kini telah tiada, menyisakan kesedihan mendalam serta masa depan yang penuh ketidakpastian bagi anak-anaknya.
Beberapa jam pasca insiden isak tangis keluarga pecah saat jenazah almarhum tiba di rumah duka. Kerabat dan warga sekitar berdatangan, menyampaikan belasungkawa sekaligus keprihatinan atas kejadian yang dinilai terus berulang tanpa solusi nyata.
"Beliau orang baik, pekerja keras. Sekarang anak-anaknya masih kuliah, tentu ini sangat berat bagi mereka,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar.
Peristiwa ini kembali membuka luka lama masyarakat terkait aktivitas armada batubara yang melintas di jalan umum. Jalintim yang menjadi urat nadi transportasi warga kini seringkali berubah menjadi jalur berbahaya akibat lalu lintas kendaraan bertonase besar.
Menanggapi tragedi tersebut, Lembaga Generasi Muda Peduli Tanah Air (GEMPITA) Muba bersama sejumlah organisasi dan media partner menyatakan sikap tegas. Mereka telah melayangkan surat resmi kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia guna mendesak pemerintah pusat segera bertindak.
GEMPITA Muba meminta Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh armada batubara yang masih melintas di jalan umum. Mereka menilai, keselamatan masyarakat tidak boleh terus dikorbankan demi aktivitas industri.
“Ini bukan sekadar kecelakaan, ini tragedi kemanusiaan. Kami mendesak Kementerian Perhubungan RI untuk segera bertindak dan mengevaluasi seluruh armada batubara yang melintas di jalan umum,” ujar Mauzan alias Bonang bersama sejumlah organisasi dan partner, Senin (04/05/26).
Selain itu, mereka juga menuntut adanya tanggung jawab dari pihak perusahaan terkait, termasuk pemberian santunan yang layak bagi keluarga korban, terutama untuk keberlanjutan pendidikan kedua anak almarhum.
"Mari kita renungkan patut kita pahami saat ini di balik deru armada batubara batubara dari Provinsi Jambi menuju pulau Jawa tersisa duka yang mendalam. Dua anak Selamet Riyanto harus melanjutkan perjuangan hidup tanpa sosok ayah, kalau sudah seperti ini siapa yang bertanggungjawab," tutup Bonang. (Red)