HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Gubernur Buka Wakil Gubernur Tutup



MTQ ACEH XXXVII ACEH yang digelar di Pidie Jaya, menjadi momen tersendiri bagi warga Aceh. Selain selain sebagai ajang kompetisi keagamaan dan cuan bagi para pedagang, juga sebuah bukti nyata pemimpin KEHARMONISAN Aceh, antara gubernur dan wakil gubernur. Hal ini jadi contoh teladan bupati dan walikota kota yang ada di Aceh, agar jangan rakus bekerja atau mengelola sendiri dalam sebuah acara, tapi beri kesempatan kepada wakilnya. 


Salah satu warga Pidie Jaya, Ibrahim, mengapresiasi Mualem yang memberi kesempatan kepada wakilnya untuk menutup MTQ Aceh ke 37 Pidie Jaya.


“Mungkin iya, pak gubernur punya tugas lain atau sedang di luar daerah saat penutupan MTQ. Tapi yang jelas kami saksikan sendiri bahwa yang buka Mualem (gub) tapi yang tutup Fadhlullah (wagub. Ini membuktikan bahwa seorang gubernur juga memberi kesempatan kepada wakilnya,” ucap Ibrahim.


“Ini adalah contoh yang positif diperlihatkan kepada bupati dan walikota, agar mereka meniru gubernur dalam pekerjaannya,” sambung Ibrahim.


Seandainya, ada bupati atau walikota yang tidak pernah memberi kesempatan kepada wakilnya dalam momen-momen berharga di daerahnya, menandakan bupati atau walikota itu rakus sekali. Dan hal itu berlawanan dengan atasannya.


Keharmonisan antara bupati dan wakil bupati, walikota dengan wakil walikota akan membuat daerah itu nyaman, dan wargapun semakin damai karena pemimpin akur. Sebaliknya, pemimpin yang tidak akur antara bupati dan wakilnya, akan membuat warga di daerahnya Amburadul. Bagaimana bisa membuat rakyatnya damai kalau pemimpinnya tidak akur. 


Dengan momentum MTQ ini, akan menjadi barometer bagi bupati dan walikota agar tidak rakus dalam menjalankan roda pemerintahan di daerahnya.