Pengawasan Minim" Pendamping Cuma Datang 3 Kali, Revitalisasi SMA Al-Washliyah Berantakan
April 29, 2026
Aceh Tamiang–mediaadvokasi.id:
Proyek bantuan revitalisasi di SMA Al-Washliyah yang nilainya cukup besar, mencapai Rp269.061.000, kini jadi sorotan. Pasalnya, pelaksanaannya di lapangan diduga tidak berjalan sesuai aturan teknis yang seharusnya berlaku. Banyak hal yang terlihat janggal dan tidak sesuai prosedur.
Kepala Sekolah SMA Al-Washliyah, Bapak Supriyanto, sendiri mengakui adanya kekeliruan, bahkan mulai dari pencetakan rincian anggarannya. Dana sebesar itu rencananya dipakai untuk dua kegiatan utama, yaitu memperbaiki ruang administrasi (yang terdiri dari dua ruangan) dan merenovasi ruang perpustakaan.
Tapi, apa yang terjadi di lapangan justru berbeda. Yang bikin heran, urutan pengerjaannya kok terbalik. Pemasangan plafon sudah duluan dikerjakan dan dipasang, padahal pekerjaan atap seng yang seharusnya jadi tahap awal justru belum disentuh sama sekali.
Padahal kan logikanya, atap harus selesai dulu baru plafon, biar plafon tidak basah atau rusak kalau hujan. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana sih pengawasannya selama ini Sangat Minim, Pendamping Cuma Datang 3 Kali
Ditanya soal pengawasan, Kepala Sekolah mengakui kalau pengawasan di lokasi sangat minim banget. Menurut keterangannya, fasilitator atau pendamping yang seharusnya mengawasi pekerjaan ini baru hadir total tiga kali sejak proyek dimulai.
Alasannya? Katanya si pendamping punya banyak kesibukan lain di wilayah Langsa, jadi jarang bisa datang ke lokasi. Akibatnya, pekerjaan berjalan tanpa arah yang jelas dan akhirnya terjadi kesalahan teknis seperti ini.
Selain soal urutan kerja, pihak sekolah juga merasa bingung soal penggunaan anggaran. Soalnya ada bangunan milik yayasan yang letaknya bersebelahan dengan gedung perpustakaan. Mereka jadi bertanya-tanya, apakah dana dari proyek ini boleh juga dipakai untuk memperbaiki bangunan yayasan tersebut atau tidak. Pengakuan Pendamping Lapangan: Akui Salah, Tapi Resiko Bongkar Tanggung Sekolah
Di sisi lain, pendamping lapangan yang bernama Johan S saat dikonfirmasi mengaku kalau dia sebenarnya hanya diperbantukan. Dia menggantikan pendamping utama bernama Mirza.
Lucunya lagi, Johan mengaku sampai sekarang dirinya belum menerima surat tugas resmi. Jadi statusnya agak "abu-abu" di lapangan.
Johan juga tidak menampik kalau memang ada kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan, terutama soal urutan pengerjaan yang terbalik itu. "Memang benar ada kesalahan urutan," akunya.
Dia menyebutkan kalau pekerjaan pemasangan seng atap tetap akan dikerjakan. Tapi ada pernyataan yang cukup mengejutkan. Menurut Johan, kalau nantinya plafon yang sudah terpasang itu harus dibongkar karena kesalahan urutan tadi, maka biaya atau tanggung jawab pembongkarannya itu menjadi beban pihak sekolah. Wah, berat juga ya.
Khusus untuk kegiatan rehabilitasi perpustakaan yang nilainya mencapai Rp128.035.000, juga terindikasi adanya kesalahan dalam perencanaan. Pasalnya, pelaksanaan di lapangan terlihat tidak mencerminkan penggunaan anggaran yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi keseluruhan ini memunculkan dugaan kuat kalau pengawasan memang sangat lemah. Ada potensi pelanggaran terhadap aturan pelaksanaan program revitalisasi sekolah.
Masyarakat dan pihak terkait berharap agar segera ada evaluasi menyeluruh. Jangan sampai anggaran negara yang nilainya tidak sedikit ini sia-sia, salah sasaran, atau justru merugikan karena pengerjaannya yang tidak sesuai standar teknis. (Eri Efandi).