Kisah Sekolah Malaka" Monumen Gotong Royong Digital Penembus Batas Bencana
June 28, 2026
Aceh Tamiang–mediaadvokasi.id:
Riuh tawa anak-anak di Desa Kotalintang, Kecamatan Kota Kuala Simpang, mendadak pecah pada Sabtu (27/6/2026) kemarin. Di atas tanah yang beberapa waktu lalu luluh lantak diterjang banjir bandang dan tanah longsor, kini berdiri kokoh bangunan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al-Ikhsan—atau yang kini populer disebut Sekolah Malaka.
Gedung pendidikan baru ini diresmikan langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H. Kehadiran sekolah ini menjadi bukti nyata keajaiban gotong royong digital yang berhasil memulihkan trauma anak-anak korban bencana di Sumatra bagian utara.
Bupati Armia tidak dapat menyembunyikan rasa haru sekaligus bangganya saat melihat fasilitas sekolah yang sudah siap pakai, lengkap dari meja, bangku, hingga seragam baru untuk para siswa. Dalam sambutannya, jenderal bintang dua purnawirawan tersebut menyampaikan apresiasi mendalam kepada Yayasan Cakra Abhipraya Responsif dan gerakan Malaka Project.
“Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sangat mengapresiasi kepedulian luar biasa dari Yayasan Cakra Abhipraya Responsif di bawah pimpinan Saudara Putro Anugrahlindu, serta aksi luar biasa dari Saudara Ferry Irwandi melalui platform Kitabisa. Sinergi kemanusiaan ini adalah wujud nyata kolaborasi yang mengembalikan harapan dan masa depan generasi penerus kita,” ujar Bupati Armia dengan penuh penekanan.
Bupati Armia Pahmi berharap momentum peresmian ini menjadi simbol bangkitnya kembali kualitas pendidikan keagamaan dan formal di Aceh Tamiang. Berdirinya MDTA Al-Ikhsan, kata Armia, adalah bukti bahwa ketika bencana melumpuhkan infrastruktur, kepedulian sesama manusia mampu membangunnya kembali menjadi lebih kuat.
Berdirinya Sekolah Malaka bak sebuah cerita fiksi. Fasilitas ini lahir dari sebuah gerakan kemanusiaan digital yang fenomenal: siaran langsung (live streaming) tanpa henti selama 24 jam penuh di kanal YouTube Ferry Irwandi. Aksi nekat nan mulia tersebut berhasil mengetuk hati ratusan ribu netizen hingga menghimpun dana fantastis sebesar Rp10,3 miliar.
Uang recehan hingga jutaan rupiah yang dikirimkan oleh masyarakat dunia maya itu kini mewujud menjadi dinding-dinding kelas yang kokoh. Dipadukan dengan eksekusi lapangan yang tanggap dari Yayasan Cakra Abhipraya Responsif, peletakan batu pertama yang dimulai pada 26 Januari 2026 lalu akhirnya tuntas dalam waktu singkat.
“Hari ini Sekolah Malaka di Aceh Tamiang sudah mulai beroperasi, baju seragam juga sudah, bangku sama meja juga sudah. Senang banget lihatnya,” tulis Ferry Irwandi dalam unggahan media sosialnya yang viral, memancarkan rasa syukur yang mendalam. Ia juga menyelipkan pesan pembakar semangat, ”Belajar yang rajin ya kawan-kawan muda,” ujarnya memotivasi.
Ketua Cakra Abhipraya Responsif, Putro Anugrah Lindu, mengatakan pihaknya sudah masuk ke Aceh Tamiang sejak masa tanggap darurat pascabencana. Kehadiran mereka bukan sekadar memberikan bantuan instan, melainkan berkomitmen mengawal proses pemulihan jangka panjang, khususnya di sektor pendidikan anak-anak.
Kini, gerakan kemanusiaan yang dimotori oleh lembaganya tersebut secara total mengerjakan tiga proyek perbaikan sekolah yang terdampak parah, yaitu TK Islam Nashrullah, MDTA Al-Ikhsan (Sekolah Malaka), serta SDN Pantai Cempa.
"Kami tidak ingin anak-anak di sini kehilangan masa depan mereka hanya karena sekolah mereka hancur oleh bencana. Pembangunan MDTA Al-Ikhsan ini adalah langkah awal dari misi besar kami untuk memastikan bahwa proses belajar-mengajar tidak boleh berhenti, apa pun keadaannya," tegas Putro.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi erat antara relawan lapangan, donatur digital, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat adalah kunci utama cepatnya pembangunan fisik sekolah tersebut. Sinergi ini membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer dari ibu kota ke ujung Aceh tidak menjadi penghalang ketika hati masyarakat Indonesia digerakkan oleh rasa kemanusiaan yang sama.
Kini, riuh tawa di Kp. Kotalintang bukan lagi sekadar suara musiman. Ia telah bertransformasi menjadi melodi harapan baru. Di balik meja dan kursi kayu yang masih wangi cat baru, anak-anak Aceh Tamiang siap kembali merajut mimpi mereka yang sempat hanyut terbawa banjir, membuktikan bahwa kepedulian bersama selalu jauh lebih kuat daripada bencana apa pun..(Eri Efandi).